OSPEK (Pretold)
Hati berdebar, pagi itu aq udh siapkan daftar apa aja yang harus dibawa, g lupa hari ini adalah hari pertama Ospek Q, dan sebelum pagi menjelang aq udh makan yg banyak biar kuat ntar
. Ayah mengantarku ke sekolah tetapi jarak yang diperbolehkan hanyalah beberapa meter saja dari sekolah. Aq segera berlarian dan bertemu dengan seorang peserta OSPEK juga. kita berjalan sambil berlari kecil, beriringan disertai nafas tersengal, Aq bertanya “hei, ditaruh dimana nih keplek nya ?” dy spontan menjawab “Di ikatkan trus kamu kalungkan di dada”. “Ok thanks” ujarku. sesampainya di pintu gerbang, aq langsung disambut dengan kakak senior, berkata “Ayo ayo cepat, segera masuk, ato kalian akan kena hukuman”.
Aq hanya menuruti apa kata mereka. semua peserta disuruh berbaris dan dengan hati galau kita mendapat sambutan yang cukup meriah dari kakak senior, mereka berteriak – teriak seperti ingin menakut – nakuti kita. Aq tertunduk dan mendengar ada suara keras dan nyaring, suara itu berasal dari depan, tepatnya lapangan. yah aq cukup jelas melihat seorang peserta wanita berteriak sambil memasang wajah tegang sekali, rambutnya pendek, berpostur seperti pria, kulitnya gelap dan suaranya nyaring sekali. “Saya berjanji, tidak akan lupa membawa penggaris lagi” teriaknya dengan lantang dan keras. Aq memasang wajah melas dan tanpa basa basi kami digiring kedalam kelas
. Didalam kami diberikan pengarahan, tidak hanya itu, sambutan dari ketua OSIS mengenalkan kita pada seorang pemimpin berpostur kecil, tampan, dan tak pandang bulu.
OSPEK kali ini berbeda dengan semasa aq masih SMP, kita diharuskan memakai pakaian seragam putih – putih, aksesori yang aneh, seperti sabuk warna warni, keplek supergede, dan juga tas kresek dengan ukuran dan hiasan pita di kepala. Tak terasa matahari semakin meninggi, jam OSPEK di akhiri dengan doa bersama ketua kelas, kita diingatkan untuk datang tepat waktu dalam artian tidak boleh terlambat dan tidak boleh terlalu pagi. Smua peserta OSPEK berhamburan keluar dari sekolah, sementara itu aq masih menunggu angkot yang lewat. Satu persatu peserta pulang, tak lama kemudian teman yang tadi pagi aq temui berkenalan, “Hi, namaku Ikhwan”, ujarnya, “owh iya aq Gio”. Kita saling ngobrol sembari menunggu angkot yang datang. Aq berharap tidak akan terlalu panas hari ini karena berpuasa tepat saat OSPEK. Angkot yang aq cari datang dan masuk bersama peserta lainnya. Kita saling diam, bertatapan, dan juga tersenyum melihat aksesori aneh yang kita kenakan.
Sepanjang perjalanan hanya tersisa 2 peserta OSPEK saja, dan ada juga peserta OSPEK dari sekolah lain yang ikut dalam angkot. setelah melihat lagi dan mengingat “ternyata gadis inilah yang tadi kena hukuman sewaktu aq datang” Gumamku. Gadis itu bertanya ke salah satu diantara peserta OSPEK sekolah lainnya, tak lama juga aq ikutan nimbrung, ternyata segala sesuatunya bisa nyambung karena kita senasib, mulailah kita berempat bercanda dan saling bercerita. Perjalananku dimulai dengan kaki setelah angkot berhenti di tujuan, lucunya sang Gadis juga ikutan turun. “Wah ada teman buat ngobrol nih” ujarku. Kita saling melempar senyum, dia bilang “Hei kenalin namaku Dita”, “owh iy aq Gio”, sesegera mungkin kita akrab dan akhirnya aq tau dimana rumahnya. Tetap saja tidak satu perumahan tetapi yang penting aq punya teman baru, hehehe.
3 hari OSPEK aq lalui dengan penuh kecemasan dan juga tantangan baru. Teman baru, yap, sejauh ini aq hanya mengenal beberapa orang saja. Ada kejadian unik yang aq kagumi, entah skenario atau beneran terjadi, kita semua dikumpulkan dalam satu lapangan. tak lama kemudian datanglah semua kakak panitia berbaris menghadap kita. kagetnya ada seorang ketua OSIS yang datang dengan nada marah dan geram melihat perilaku panitia kemarin, bahkan tak segan untuk berteriak ke setiap panitia yang ada dan tentunya membuat salah satu panitia menangis(wanita), tak hanya itu, salah satu kakak panitia dengan tubuh terkekar dan terbesar ditampar, wah kecil2 tapi luar biasa tuh dan aq sendiri cuma bengong, maklum sih masih anak kemarin sore. Jantungku semakin berdebar manakala hal semacam ini akan berdampak bagi kita terutama peserta OSPEK, kemungkinana kita akan terkena imbasnya. Syukurlah sampai hari terakhir kita yang selalu nurut tidak akan terkena hukuman atau sanksi. Bagiku hari terakhir menjadi pertanda cerahnya wajah para peserta OSPEK kali ini. tak terkecuali kita berdua, sepulang dari OSPEK kita tak henti – hentinya bercanda dan tersenyum bahagia meskipun pita yang dikenakan Dita dan tas kresek yang aq pakai sudah keliatan tak layak lagi.
